Di luar perayaan Natal pada 24-25 Desember, masyarakat Indonesia pada masa lalu mengenal perayaan lain yang juga cukup meriah, yaitu Hari Sinterklas yang jatuh pada tanggal 5 Desember. Meskipun perayaan ini pernah sangat populer, kini namanya diingat hanya sebagai bagian dari sejarah yang perlahan terlupakan.
Tradisi ini membawa kenangan yang manis bagi banyak orang, terutama yang tumbuh di era sebelum tahun 1957. Sinterklas, yang dikenal sebagai sosok yang baik hati, menjadi simbol kegembiraan bagi anak-anak yang menantikan hadiah-hadiah dari sang santo.
Asal Usul Tradisi Sinterklas di Indonesia
Tradisi Hari Sinterklas sejatinya merupakan warisan dari Belanda. Selama berabad-abad, masyarakat Belanda merayakan pesta Sinterklas pada tanggal 5 Desember sebagai bentuk penghormatan kepada Santo Nicholas yang dikenal dermawan.
Ketika orang Belanda menjajah Indonesia, mereka membawa berbagai tradisi, termasuk merayakan Hari Sinterklas. Di tanah air baru ini, perayaan itu menyatu dengan budaya lokal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terdampak kolonialisasi.
Sinterklas dan pembantunya, Zwarte Piet, diceritakan datang dengan kapal uap, melintasi lautan untuk membagikan hadiah. Namun, karena perbedaan budaya, tradisi ini pun berkembang sesuaikan dengan kondisi setempat.
Perayaan Meriah dan Adaptasi Tradisi
Di Indonesia, di mana kebanyakan rumah tidak memiliki cerobong asap, anak-anak akan meletakkan sepatu yang diisi rumput di bawah jendela. Mereka berharap Sinterklas akan meninggalkan hadiah di sana. Kebiasaan ini menjadi simbol harapan dan kegembiraan yang tak nugunung.
Hari Sinterklas di Indonesia dipenuhi dengan perayaan yang meriah, termasuk arak-arakan dan berbagai permainan anak. Kedua perayaan ini berlangsung dengan suka cita, menyatukan komunitas dan memperkuat tali persaudaraan antara warga Belanda dan penduduk setempat.
Menurut kesaksian dari beberapa orang yang mengalami masa itu, Hari Sinterklas adalah salah satu momen yang paling dinantikan anak-anak. Kenangan indah ini menorehkan jejak nostalgia, meskipun pada akhirnya segalanya harus berakhir.
Perubahan yang Terjadi dan Faktor Penyebabnya
Namun, suasana kegembiraan ini mendadak berubah pada tahun 1957, saat munculnya sentimen negatif terhadap orang Belanda akibat situasi politik. Saat pemerintah Indonesia tidak mendapatkan hasil yang menguntungkan dalam diplomasi di PBB terkait Irian Barat, tensi antara Indonesia dan Belanda semakin memanas.
Di tengah peristiwa ini, Hari Sinterklas yang seharusnya dirayakan dengan sukacita, justru berujung pada ketegangan. Penolakan terhadap pengaruh Belanda menjadikan perayaan tradisional ini sebagai salah satu korban dari situasi politik yang tak menentu.
Hari Sinterklas tiba dan menjadi hari yang penuh kesedihan, bukannya kegembiraan. Banyak warga Belanda yang tinggal di Indonesia terpaksa meninggalkan tanah perantauan mereka pada saat itu, dan ini menjadi awal dari hilangnya tradisi yang pernah meriah.
Memori yang Hilang dan Akhir Dari Tradisi
Saat aspek sosial dan budaya berubah, Hari Sinterklas perlahan-lahan terlupakan. Keberadaan orang Belanda yang semakin berkurang, menyebabkan hilangnya bagian penting dari tradisi ini. Perayaan-perayaan yang dulunya berwarna tidak lagi dirayakan dengan antusiasme yang sama.
Sejak saat itu, bentuk perayaan pun berubah, dan anak-anak tidak lagi merasa dikenali tanggal 5 Desember sebagai momen yang spesial. Momen kelahiran tradisi ini perlahan terhapus dari ingatan generasi-generasi berikutnya.
Hingga kini, Hari Sinterklas dan kebiasaan yang mengikutinya menjadi bagian dari sejarah yang patut dikenang, namun juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami sejarah untuk menjaga dan menghargai setiap warna-warni budaya yang telah ada.










