Kampung Suryatmajan, terletak di timur kawasan Malioboro, merupakan contoh nyata inovasi dalam menyiasati keterbatasan lahan di perkotaan. Di tengah tantangan permukiman yang padat, muncul sebuah inisiatif berkebun yang berbuah keberhasilan, terutama selama masa pandemi COVID-19 yang juga menjadi pendorong utama bagi masyarakat setempat.
Dari kondisi yang awalnya tertinggal, komunitas mulai berfokus pada pengembangan ketahanan pangan mandiri. Inisiatif ini diberi nama Pelatihan dan Budidaya Lorong Sayur, yang digagas oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Suryatmajan untuk memberdayakan sumber daya lokal secara efektif.
“Yang terpilih adalah lorong sayur ini, karena dulunya adalah tempat pembuangan sampah dan tidak terawat. Dengan dukungan dari kelurahan, kami pun menciptakan lorong sayur ini yang diberi nama SuryaTani pada tahun 2019,” ujar Widadi, salah satu penggerak inisiatif itu.
“Program ini lahir sebagai respons terhadap COVID-19. Kami ingin meningkatkan stamina warga dan memberikan semangat di tengah situasi sulit, dan hasil panen ini bermanfaat untuk seluruh masyarakat,” tambahnya, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah krisis.
Transformasi Gang Sempit Menjadi Kebun Produktif
Dengan semangat gotong royong, gang-gang yang dulunya sekadar lorong biasa kini dihiasi pot, polybag, dan instalasi hidroponik. Aktivitas menanam di lorong-lorong ini membawa perubahan yang signifikan, menjadikan kawasan tersebut sebagai “Kampung Hijau” yang asri dan menarik.
“Kami terdiri dari sekitar 30 orang, termasuk bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak muda. Ketika aktivitas pekerjaan terhenti, kegiatan ini menjadi alternatif positif untuk mengisi waktu dan memperkuat hubungan antarwarga,” ungkap salah satu anggota komunitas.
Keberhasilan warga dalam mengelola kebun sayur secara mandiri ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat citra Suryatmajan sebagai panutan bagi pengembangan urban farming di wilayah lainnya. Hal ini merupakan pembuktian bahwa kepedulian dan kreativitas dapat mengubah lahan terbatas menjadi sumber pangan yang berkelanjutan.
Seiring dengan berjalannya waktu, semangat kemandirian pangan tersebut berkolaborasi dengan rencana pengembangan pariwisata di daerah tersebut. Setelah pengendalian pandemi, berbagai inisiatif baru mulai bermunculan, termasuk eksplorasi Kampung Wisata Suryatmajan.
Membangun Potensi Lewat Urban Farming
Program Kampung Wisata Suryatmajan resmi diperkenalkan pada Maret 2023, membawa visi yang lebih besar bagi masyarakat. Konsep berkebun sayur, disertai pengembangan UMKM kuliner berbahan jamur oleh kelompok Surya Tani, menjadi daya tarik utama yang ditawarkan kepada pengunjung.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat lokal dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk mendatangkan manfaat. Melalui kerja sama, tantangan yang dihadapi selama masa pandemi dapat disulap menjadi peluang untuk masa depan yang lebih baik.
Masyarakat Suryatmajan kini tidak hanya bertumpu pada pertanian skala kecil, tetapi juga pada pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan enam langkah utama—perencanaan, eksekusi, pembelajaran, kolaborasi, promosi, dan evaluasi—komunitas ini bersiap untuk mewujudkan mimpi mereka.
Pentingnya memperkenalkan ekosistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan akan memberi dampak luas bagi masyarakat. Inisiatif ini tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan peluang kerja baru dan meningkatkan perekonomian lokal.
Peran Komunitas dan Dukungan Lingkungan
Peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan program ini sangatlah krusial. Keterlibatan aktif dari semua elemen masyarakat, termasuk lembaga pemerintahan dan organisasi non-pemerintah, memberikan dukungan yang diperlukan untuk keberhasilan inisiatif ini.
“Keberhasilan Kampung Suryatmajan bukan hanya hasil kerja keras warga, tetapi juga berkat kolaborasi dengan berbagai pihak,” tegas Widadi, yang menunjukkan pentingnya sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Melalui pelatihan dan workshop, warga mendapatkan pengetahuan tentang teknik pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan di lahan sempit. Hal ini tidak hanya memperkaya keterampilan masyarakat, tetapi juga meningkatkan rasa memiliki terhadap lingkungan mereka.
Di tengah kesuksesan program ini, tantangan tetap ada, seperti kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan dan mengatasi masalah yang muncul. Meski demikian, warga Kampung Suryatmajan tetap optimis dan bertekad untuk terus berinovasi.
Dengan dukungan masyarakat dan kepemimpinan yang kuat, Kampung Suryatmajan berdiri sebagai contoh bagi kampung-kampung lain untuk mengoptimalkan potensi lahan yang ada. Pengalaman ini mengajarkan banyak pelajaran berharga tentang ketahanan, kreativitas, dan kerja sama yang menjadi kunci dalam menghadapi tantangan di masa depan.







