Berdasarkan data operasional yang terbaru, titik dengan intensitas penemuan barang tertinggi berada pada layanan BRT Koridor 1 yang menghubungkan Blok M dan Kota. Halte Integrasi CSW juga mencatatkan angka tinggi dalam mobilisasi penumpang, menjadikannya wilayah penting dalam manajemen barang hilang.
Menurut Tjahyadi, aturan mengenai masa simpan barang yang ditemukan mulai berlaku. Barang-barang yang tidak diambil dalam waktu 90 hari kerja akan diproses lebih lanjut untuk pemusnahan atau disumbangkan untuk kepentingan sosial, sesuai dengan prosedur yang ada.
Dari sisi regulasi, langkah ini mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku dan peraturan perundang-undangan. Ini bertujuan menjaga keamanan dan keteraturan dalam pengelolaan barang yang hilang dan ditemukan.
Rincian Prosedur Pengelolaan Barang Hilang oleh Transjakarta
Tjahyadi menambahkan bahwa langkah hibah barang yang layak pakai membantu pilar ESG, yakni Environmental, Social, and Governance. Hal ini mengarahkan barang-barang yang sebelumnya terabaikan menjadi aset yang bisa memberikan manfaat sosial bagi masyarakat miskin.
Proses pengelolaan barang hilang dilakukan secara sistematis dan berbasis digital. Tjahyadi menegaskan, setiap langkah pengelolaan mengikuti prosedur yang jelas agar tidak ada kesalahpahaman atau penyalahgunaan.
Penumpang yang merasa kehilangan barang disarankan untuk segera melapor. Mereka bisa menghubungi staf di lapangan atau memanfaatkan kanal resmi Customer Care Transjakarta untuk melaporkan kehilangan mereka.
Komitmen Terhadap Keamanan dan Perlindungan Penumpang
Tjahyadi memastikan bahwa setiap barang yang ditinggalkan dikelola dengan standar integritas yang tinggi. Ini bertujuan untuk memberikan kepastian dan perlindungan bagi seluruh pengguna layanan Transjakarta.
Transjakarta juga berfokus pada transformasi layanan pelanggan yang lebih baik. Sebagai bagian dari itu, sistem pengelolaan barang tertinggal terus diperkuat, sejalan dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang telah ditetapkan.
Pendirian sistem “lost and found” bukan hanya sekadar prosedur operasional biasa, tetapi juga merupakan komitmen untuk melindungi hak-hak penumpang. Langkah ini sangat penting untuk memastikan kepercayaan penumpang pada layanan yang diberikan.
Manfaat Sosial dari Barang Tertinggal yang Dihibahkan
Dalam konteks sosial, barang-barang yang dihibahkan sangat mungkin dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan. Hal ini memberikan peluang bagi komunitas yang kurang beruntung untuk mendapatkan barang-barang yang masih berharga bagi mereka.
Selain itu, proses ini juga bertujuan untuk mengurangi limbah yang dihasilkan. Dengan mendonasikan barang yang layak, Transjakarta berkontribusi dalam menjaga lingkungan dengan menghindari barang-barang tersebut menjadi sampah yang tak terkendali.
Akhirnya, Tjahyadi menekankan betapa pentingnya kolaborasi antara pihak swasta dan publik dalam pengelolaan sosial ini. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan.











