Pada pertengahan bulan Desember tahun 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kemunculan beberapa siklon dan bibit siklon tropis di lautan Indonesia. Fenomena ini termasuk Siklon Tropis Bakung, Bibit Siklon Tropis 93S, dan Bibit Siklon Tropis 95S, yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap cuaca serta pelayaran di sekitar wilayah tersebut.
Adanya siklon dan bibit siklon tropis ini berpotensi meningkatkan curah hujan, menimbulkan angin kencang, dan meningkatkan ketinggian gelombang laut di wilayah pesisir. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pengguna transportasi laut untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi risiko bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi.
Perubahan cuaca yang disebabkan oleh fenomena ini perlu dicermati secara serius. Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat sangat krusial dalam mitigasi dampak yang ditimbulkan dari kondisi cuaca ekstrem ini.
Dampak Siklon Tropis Bakung Terhadap Beberapa Wilayah Pesisir
Siklon Tropis Bakung pertama kali muncul pada 12 Desember 2025 di wilayah barat daya Lampung dan mengalami fluktuasi intensitas. Saat ini, siklon ini terdeteksi berada pada kategori 1 dengan kecepatan angin maksimum mencapai 40 knot, atau sekitar 76 kilometer per jam, serta tekanan minimum sekitar 997 hPa.
Gelombang laut tinggi yang diprediksi akibat kehadiran Siklon Tropis Bakung berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter, yang terjadi di perairan Samudra Hindia bagian barat Kepulauan Mentawai, barat Lampung, dan Selat Sunda bagian selatan. Untuk beberapa titik lain, gelombang bisa mencapai ketinggian antara 2,5 hingga 4 meter di Samudra Hindia bagian barat Bengkulu.
Keberadaan siklon ini membuat wilayah pesisir terancam hujan deras, meskipun pusat siklon menjauh dari daratan. Hal ini berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat yang bergantung pada laut dan keselamatan transportasi laut, terutama di pulau-pulau barat Indonesia.
Kondisi Bibit Siklon Tropis 93S dan Pengaruhnya
Selain Siklon Tropis Bakung, BMKG juga mencatat adanya Bibit Siklon Tropis 93S yang terbentuk pada 11 Desember 2025. Its coordinate placement is around 12,8 derajat Lintang Selatan dan 113,5 derajat Bujur Timur, tepatnya di Samudra Hindia selatan Jawa Timur.
Kecepatan angin maksimum dari bibit ini mencapai 15 knot, yang setara dengan 28 kilometer per jam. Walaupun ada potensi untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh, kemungkinan tersebut tergolong rendah dalam 24 jam ke depan.
Dampak yang mungkin terjadi termasuk hujan sedang hingga lebat di wilayah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, serta Bali dan Nusa Tenggara Barat. Kombinasi dari hujan lebat serta gelombang laut tinggi ini mengharuskan masyarakat di kawasan tersebut untuk tetap waspada.
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 95S dan Dampaknya
BMKG juga melaporkan munculnya Bibit Siklon Tropis 95S yang terdeteksi berada di sekitar Laut Arafura, selatan Kepulauan Aru, Maluku. Lokasinya tepat berada di koordinat 8,8 derajat Lintang Selatan dan 134,4 derajat Bujur Timur, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot atau setara 37 kilometer per jam.
Tekanan minimum dari bibit siklon ini adalah 1005 hPa dengan potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu 25 jam ke depan. Walaupun demikian, dampak dari bibit siklon ini tetap signifikan, terutama bagi masyarakat pesisir.
Pemerintah dan masyarakat, terutama nelayan, harus meningkatkan kewaspadaan. Dengan potensi hujan lebat di Papua Selatan, serta gelombang tinggi di Laut Arafura dan Laut Banda, risiko terhadap keselamatan pelayaran meningkat.
Pentingnya Kewaspadaan dan Mitigasi di Lautan Indonesia
Dalam menghadapi fenomena alam seperti siklon tropis dan bibitnya, penting bagi masyarakat untuk selalu memonitor perkembangan informasi cuaca dari pihak berwenang. Kesiapan dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem dapat mengurangi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.
Pendidikan tentang cuaca dan bencana serta pembentukan komunitas yang sadar akan risiko bencana menjadi hal yang urgent. Dengan cara ini, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir bisa lebih siap dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.
Selain itu, kolaborasi antar pemerintah daerah dan masyarakat sangat penting untuk mempercepat penyebaran informasi dan mekanisme pertolongan. Pelayanan informasi cuaca dan bencana yang cepat dan akurat dapat memberikan waktu dan kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan.










