Gempa bumi yang mengguncang Jakarta baru-baru ini menimbulkan rasa cemas di kalangan warga. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 20 Agustus 2025 ini menunjukkan bahwa kota metropolitan ini bukanlah tempat yang sepenuhnya aman dari risiko bencana alam yang menakutkan ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkonfirmasi bahwa guncangan yang dirasakan di Jakarta berkekuatan M4,9, dengan pusat di Karawang. Masyarakat yang merasakan perilaku gempa ini segera merasa panik dan berlarian keluar rumah, mencerminkan kekhawatiran yang mendalam akan keselamatan mereka.
Dalam catatan sejarah, Jakarta telah mengalami berbagai gempa selama ratusan tahun. Sejak masa lalu, ketika Jakarta masih dikenal sebagai Batavia, peristiwa gempa ini telah menjadi bagian dari tata kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah ini, menjadikan kewaspadaan terhadap bencana alam semakin penting.
Sejarah Gempa Jakarta dan Dampaknya pada Masyarakat
Jakarta, dengan populasi jutaan jiwa, berada dalam wilayah yang tak asing dengan aktivitas seismik. Salah satu gempa besar yang tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1834. Masyarakat saat itu terkejut dengan guncangan yang kuat dan dampaknya yang merusak.
Sesar Baribis, yang terletak dekat Jakarta, menjadi penyebab utama dari gempa tersebut. Walaupun pada saat itu tidak ada teknologi untuk mengetahui penyebab dari peristiwa tersebut, di kemudian hari banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sesar tersebut adalah penyebab utamanya.
Para peneliti dari berbagai institusi, termasuk ITB dan BMKG, mengungkap fakta menarik tentang gempa yang terjadi di masa lalu. Melalui riset yang dilakukan, mereka menemukan bahwa gempa-gempa sebelum tahun 1834 juga diakibatkan oleh aktivitas Sesar Baribis, membuktikan rekam jejak gempa yang telah mengubah wajah Jakarta selama berabad-abad.
Gempa pada tahun 1834 mengakibatkan banyak bangunan di Jakarta dan sekitarnya hancur. Dari rumah sederhana hingga gedung megah, dampak kerusakan begitu luas dan tak terhindarkan, sehingga menjadi pengingat bahwa ancaman bencana alam selalu ada di sekitar kita.
Kejadian Gempa 1834: Dampak yang Mengguncang Batavia
Pada dini hari 10 Oktober 1834, guncangan kuat memukul bagian barat pulau Jawa, dan Jakarta adalah salah satu area yang paling merasakan dampak dari bencana ini. Masyarakat yang tidak siap menghadapi gempa ini berlarian ke luar rumah, menyelamatkan diri dari reruntuhan.
Laporan dari harian setempat mencatat adanya banyak kerusakan parah, termasuk bangunan bersejarah dan rumah-rumah mewah. Salah satu yang paling terdampak adalah kediaman sosok kaya raya, Agustijn Michels, yang kehilangan rumah megahnya akibat guncangan tersebut.
Selain kerugian material, bencana ini juga membawa dampak psikologis pada warga, yang dikhawatirkan akan kemungkinan gempa susulan. Tindakan preventif yang buruk pada saat itu bertepatan dengan tidak adanya informasi yang memadai mengenai keamanan bangunan di wilayah tersebut.
Sementara itu, Istana Buitenzorg, tempat tinggal gubernur jenderal, juga tak luput dari kerusakan parah. Meski dikenal dengan struktur kokoh, guncangan hebat tersebut mengubah kondisinya secara drastis, dan pemerintah kolonial terpaksa merencanakan pembangunan ulang dengan desain yang berbeda.
Pentingnya Mitigasi Bencana di Jakarta Masa Kini
Hari ini, Jakarta memiliki tantangan baru dalam bentuk gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Ini menjadi perhatian utama dalam hal mitigasi bencana, karena populasi yang terus bertambah membuat risiko semakin meningkat. Warga Jakarta harus lebih siap dan sadar akan tindakan yang bisa diambil saat terjadi gempa.
Pembangunan gedung yang ramah bencana seharusnya menjadi prioritas bagi pengembang. Pengujian material dan rancangan arsitektur yang sesuai dengan standar keselamatan harus diterapkan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah saat terjadi bencana.
Pendidikan tentang bencana alam perlu ditingkatkan di kalangan masyarakat. Masyarakat harus diberi tahu tentang langkah-langkah evakuasi dan cara melindungi diri selama gempa bumi, agar tidak panik saat situasi darurat terjadi.
Jakarta, sebagai salah satu pusat ekonomi dan sosial di Asia Tenggara, juga harus mematuhi regulasi yang ketat terkait keselamatan bangunan. Diskusi terbuka mengenai adaptasi terhadap perubahan iklim dan dampak seismik menjadi hal yang perlu dicermati oleh semua pihak.